Penghulu KUA Lau Kenalkan Ekoteologi Syajaratun Ṭayyibah sebagai Prakondisi Penyucian Diri Jelang Ramadan

Tim Redaksi
Sunday, 15 February 2026 11:56 - 35 View

Ghazinews.com, Maros (13/2) – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Penghulu KUA Lau, Syamsir Nadjamuddin, memperkenalkan konsep ekoteologi melalui perumpamaan Syajaratun Ṭayyibah dan Syajaratun Khabītsah sebagai pendekatan penyucian diri.

Taushiyah dan pencerahan tersebut disampaikan usai pelaksanaan salat Jumat, Jumat (13/2), sebagai bagian dari materi persiapan menyambut Ramadan.
Kegiatan ini dihadiri Imam Lingkungan Sampobia, ketua RW, serta badan berjamaah yang antusias mengikuti penjelasan.

Dalam penyampaiannya, Syamsir menekankan bahwa Ramadan bukan hanya momentum ibadah ritual, tetapi juga proses ekologis spiritual membersihkan hati sekaligus memperbaiki hubungan manusia dengan sesama dan lingkungan.
Ia menjelaskan bahwa perumpamaan pohon dalam Al-Qur’an menjadi simbol penting bagi pembentukan karakter mukmin yang kokoh dan produktif dalam kebaikan.
Kutipan Materi Taushiyah
Tentang Syajaratun Ṭayyibah.

“Syajaratun Ṭayyibah adalah perumpamaan dalam Al-Qur’an tentang ‘pohon yang baik’, sebagaimana dalam QS. Ibrahim ayat 24–25. Akar yang kuat melambangkan iman yang kokoh, cabang yang menjulang melambangkan amal saleh, dan buahnya yang terus muncul menggambarkan manfaat berkelanjutan bagi kehidupan.” ujar Syamsir.

“Sebaliknya, lanjut Syamsir, Syajaratun Khabītsah dalam QS. Ibrahim ayat 26 menggambarkan ‘pohon yang buruk’—tidak berakar, mudah tumbang, dan tidak memberi manfaat. Ini menjadi simbol kebatilan dan kehidupan tanpa landasan iman.”

“Olehnya itu, Ramadan adalah waktu menumbuhkan diri menjadi seperti pohon yang baik—berakar dalam iman, bertumbuh dalam amal, dan berbuah dalam manfaat bagi sesama.”

Reporter Syamsir N

Tags: